BeritaDaerahReview

Akhir Tahun 2018, “Suksma Bali” akan Revolusi Mental Pariwisata di Bali

Denpasar, CahayaBali.com – Paiketan Krama Bali akan menggelar “Suksma Bali” yang mengimplementasikan “Tri Hita Karana” akhir Desember mendatang. Kegiatan itu untuk memberikan penghormatan kejiwaan dan aksi merefleksikan terima kasih dan penghargaan kepada Pulau Bali tercinta. “Bali sebagai tempat kita bersama yang dianugerahkan kehidupan, maka kami mengkemas dalam bentuk program Suksma Parahyangan, Suksma Palemahan, dan Suksma Pawongan,” kata Ketua Umum Panitia Suksma Bali, Yoga Iswara dihubungi di Denpasar, Selasa (13/11/2018).

Sebelumnya pihaknya telah beraudensi dengan Presiden Joko Widodo yang diterima oleh Staf Khusus Kepresidenan RI AA Ari Dwipayana di Gedung III Utama Kementrian Sekretariat Negara, Jakarta. Pada kesemapatan itu hadir pula Penasehat Panitia Suksma Bali I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya, Wakil Ketua Panitia Ramia Adnyana, Ketua Bidang CSR I Gusti Agung Ngurah Darma Suyasa dan Ketua Panitia Symposium Suksma Bali Ketut Swabawa . Hadir pula Tokoh Bali yang berdomisili di Jakarta yakni K.S. Arsana Nyoman Sarya.



Dengan melibatkan organisasi kepariwisataan yakni IHGMA, PHRI, BVA, GIPI, BASCOM, ASITA, HPI, BALI Hospitality Leader, Aliansi Masyarakat Pariwisata Bali, Gema Perdamaian, SIPCO. Kegiatan utama terbagi dalam tiga program yakni World Clean Up Day yang telah sukses diselenggarakan pada September yang lalu dan melibatkan 27.000 peserta pada 29 titik di seluruh Bali. Berikutnya Symposium bertajuk “Bali Host Meets Supporters” yaitu media bertemunya para stakeholders di Bali dengan para pendukung segala sektor untuk berdiskusi, menyampaikan pandangan serta mendengarkan masukan dan aspirasi untuk menjadi fokus perbaikan Bali kedepannya.

Symposium akan diselenggarakan pada 7 Desember 2018, sementara puncak acara Suksma Bali akan diselenggarakan pada 15 Desember 2018 dalam program “Suksma Bali Gala Diner and Awarding Night” dengan melibatkan 1000 peserta undangan dari berbagai kalangan. Menurutnya, ajang itu sebagai perhelatan akbar dalam misi sosial untuk pelestarian Bali dalam dimensi alam, budaya, seni dan tradisi kemasyarakatan akan segera diselenggarakan puncaknya di akhir tahun 2018 ini. Agenda bertajuk “Suksma Bali” merupakan hasil pemikiran yang cukup lama oleh para senior tokoh pariwisata baik pelaku maupun pemerhati sejak 2008 lalu dan baru terlaksana tahun ini, sebuah perjalanan yang panjang selama 10 tahun.



Mengingat, peran Bali untuk nasional adalah sangatlah signifikan, sebagai daerah penyumbang devisa terbesar dari sektor Pariwisata, dan Industri pariwisata dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar, mampu meningkatkan pendapatan dan perekonomian serta telah memberikan kontribusi yang besar pada negara Indonesia dalam bentuk devisa. Berterima kasih sebagai salah satu bentuk bhakti terhadap Bali, sekaligus meningkatkan ikatan emosional dalam menjaga Bali yang berkelanjutan. “Bali adalah pulau kecil namun tidak bermakna kecil bagi masyarakat Bali dan Indonesia,” ungkapnya.

Eksistensi Bali mampu memberikan kehidupan kepada masyarakatnya dan bahkan negaranya. Sementara itu, Ketua Bidang Symposium Swabawa menambahkan, ajang itu sebagai gerakan revolusi mental dalam kehidupan masyarakat Bali dimana secara langsung kegiatan tersebut mengajak semua pihak untuk mensyukuri atas apa yang telah didapatkan dari tanah pertiwi Bali baik yang berusaha dalam perekonomian serta mendapatkan segala berkah sehingga roda pembangunan semakin lancar dengan kuatnya sinergi berbagai pihak.

Hal ini adalah pengejawantahan sebagaimana ajaran “Tat Twam Asi” dan “Tri Hita Karana” yang tidak dapat selalu diukur dengan materi saja, namun kesadaran secara psikologis untuk bertanggung jawab warisan tanah Bali untuk anak cucu generasi penerus pada masa yang akan datang. Ini revolusi mental yang sangat luar biasa, bertaksu dalam semangat ‘menyamabraya’. Sementara Penasehat Suksma Bali I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya yang juga Ketua BPC PHRI Badung menegaskan bahwa kegiatan itu dapat menguatkan positioning Pariwisata Bali sebagai andalan Indonesia di kancah internasional.

Menurutnya, strategi pemasaran secara konvensional sudah terus dilakukan dan akan semakin ditingkatkan polanya menyesuaikan trend terbarukan. Suksma Bali ini bisa sebagai media “soft marketing effort” yang power nya lebih dahsyat daripada menawarkan harga-harga murah ke marketplace, pshyco-driven nya akan membius customer untuk lebih respect dan loyal pada Bali sebagai destinasi. “Jujur kita tidak berniat untuk mengeksploitasi ‘Suksma Bali’ hanya sebagai media promosi,” tegasnya. Namun secara eksplisit, aksi nyata sosial penghargaan pada alam lingkungan dan kemasyarakatan ini merupakan “positive exposure” yang akan mengangkat citra Bali semakin tinggi.

Begitu juga, Wakil Ketua Panitia Ramia Adnyana menambahkan bahwa IHGMA DPD Bali akan melakukan deklarasi “ Say No To Plastic” tepat pada acara Symposium Suksma Bali, terutama pada berbahan plastik yang digunakan sekali pakai, sebagai wujud nyata dalam menjaga bali dari sampah plastik, serta mendukung program Gubernur Bali dalam memerangi sampah plastik. “Acara ini sebagai bentuk sikap nyata kami selaku General Manager (GM) di Bali dalam merefleksikan rasa terima kasih untuk Bali tercinta dan sekaligus menjaga eksistensi Bali yang berbudaya, berkualitas dan berkelanjutan,” imbuhnya.




Acara deklarasi “ lSay No To Plastic” merupakan bentuk komitment yang berkelanjutan dari acara “World Clean Up Day”, ungkapnya yang didampingi Ketua Bidang CSR Suksma Bali, I Gusti Ngurah Darma Suyasa, CHA yang telah sukses dilaksanakan bulan September lalu dengan melibatkan 27.000 peserta di 29 titik lokasi diseluruh Bali. “Spirit” Suksma Bali menjadi bagian reformasi dari pariwisata dalam memenuhi kebutuhan semua pemangku kepentingan termasuk pelanggan dengan tidak mengabaikan kebutuhan generasi yang akan datang.

Banyak hal yang dibahas dalam pertemuan cukup lama tersebut, diantaranya pemikiran tentang mewujudkan suatu tatanan perekonomian berbasis kerakyatan yang manfaatnya tersalurkan untuk pelestarian budaya, lingkungan, pantai dan sebagainya. Sedangkan Staf Khusus Kepresidenan RI AA Ari Dwipayana menyambut baik dan mendukung program Suksma Bali tersebut. Kegiatan itu sebagai upaya mulia tersebut dalam rangka menumbuhkan dan menguatkan kecintaan dan kepedulian masyarakat segala lapisan terhadap daerah, bangsa dan negara dalam kerangka nasionalisme dan harmonisasi kehidupan dalam masyarakat.

“Kami berjanji akan meneruskan undangan dari panitia Suksma Bali kepada Bapak Presiden dan kami mendoakan semoga segala persiapan dapat berjalan dengan lancar serta seluruh rangkaian  kegiatan dapat memberi manfaat positif bagi rakyat Bali khususnya serta Indonesia dan Dunia internasional pada umumnya,” ungkapnya. Ia mengharapkan, orang lokal dan praktisi industri jangan hanya sekedar menjadi stakeholder namun mulai berpikir strategis sebagai shareholders. Masyarakat Bali harus lebih berperan aktif dengan ide kreatif dan membangun menuju peradaban maju dan tidak sebagai penonton saja. aya/ama

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close