Situs Candi Ditemukan di Petang Bali

Redaksi - 11 Mei 2017 - 126 viewer
Denpasar, cahayabali.com - Balai Arkeologi Denpasar, wilayah Bali-Nusa Tenggara kembali menemukan situs purbakala. Situs yang ditemukan itu berupa struktur fondasi dasar bangunan berupa candi atau "petirtan" di Pura Gelang Agung, Banjar Buangga, Desa Getasan, Kecamatan Petang, Badung.

"Dari penggalian yang dilakukan di tempat yang mengandung benda purbakala (ekskavasi), bisa kami pastikan dahulunya berupa bangunan candi atau petirtaan," kata Kepala Balai Arkeologi Denpasar, Wilayah Kerja Bali-Nusra, I Gusti Made Suwarbhawa saat ditemui di Mangupura, Jumat, 28 April 2017.

Berdasarkan ekskavasi permukaan tanah, lanjut dia, ditemukan arca dan struktur bangunan. Namun, pihaknya belum bisa menyimpulkan wujud bangunannya karena penelitian masih berlanjut.

Hanya saja, ia mengatakan, penelitian yang ditargetkan berlangsung selama dua pekan (21 April hingga 4 Mei 2017) itu sudah menemukan titik terang. Sebab, tim telah menemukan sudut tenggara dari bangunan kuno tersebut dan mendapati sebuah kolam dalam bagian struktur tersebut.

"Kami menafsirkan situs purbakala yang berada di area dalam dan luar Pura Gelang Agung ini merupakan peninggalan abad ke-11 hingga abad ke-13 Masehi," ujar Suwarbhawa. Ia menambahkan, pihaknya melibatkan 13 arkeolog untuk penggalian itu.

Namun, pihaknya belum dapat memastikan apakah bangunan tersebut merupakan peninggalan kerajaan atau petirtaan milik Desa Pakraman saat itu.

Suwarbhawa menduga benda-benda bersejarah pada situs purbakala ini hancur dan tertimbun tanah lantaran berbagai fenomena alam yang pernah terjadi di masa lampau. Misalnya, akibat adanya gunung meletus, tanah longsor, hingga banjir.

"Hal ini dibuktikan dengan adanya beragam tekstur tanah yang menimbun dasar bangunan yang kemungkinan dahulunya rusak dan tertimbun karena gunung meletus, longsor dan banjir, karena terlihat bentuk material tanah seperti itu," ujar dia.

Dalam melakukan penelitian, pihaknya mengaku sebisa mungkin menghindari perusakan bangunan yang sudah ada, karena di dekat area penggalian sudah berdiri bangunan pura yang disucikan oleh masyarakat sekitar. Namun, untuk penelitian setiap benda yang dianggap bersejarah akan tetap diteliti.

"Untuk saat ini, benda-benda peninggalan bersejarah berupa arca telah dibuatkan bangunan gedong arca," kata dia.

Sebelumnya, para arkeolog itu juga telah menemukan tumpukan batu padas yang dilakukan ekskavasi pada 2013. Apalagi, masyarakat pengempon pura setempat telah menemukan arca lingga, nandi, Dewa Wisnu di atas garuda, Dewa Siwa, puncak candi, hingga lambang pintu dan batu di pura itu.

Pada penggalian saat ini ada dua kotak ekskavasi yang dilakukan, yakni masing-masing kotak berukuran 2x2 meter dengan jarak sekitar 2 meter.

"Struktur bangunan kuno ditemukan tepat di kotak pertama dengan kedalaman 2,5 meter yang berada di sisi utara. Struktur bangunan ini diduga sebuah sudut bangunan yang tersambung dengan temuan tahun sebelumnya yang ada di dalam area pura," sebut dia.

Selain berupa sudut bangunan bersejarah, arkeolog juga menduga ada sebuah kolam yang diduga sebuah petirtaan atau tempat permandian di kawasan itu. Hal itu diperkuat dengan adanyan kolam dan tempat lingga lengkap dengan saluran airnya.

Sementara di kotak kedua pada situs purbakala yang berada di sisi selatan ditemukan beberapa padu padas yang diduga serpihan dari bangunan atau candi. Atas temuan di kotak kedua ini, penelitian belum bisa menyimpulkan peninggalan apa yang terkubur karena hampir sebagian besar temuan sudah rusak. (red*)



Beri Komentar



Masukkan 6 kode diatas)