Tradisi Penampahan Galungan dari Kaca Mata Budayawan
Blue Bird Group Lestarikan Tradisi Nampah Pupuk Kebersamaan
Nanta - 04 September 2016 - 178 Pembaca


Denpasar, cahayabali.com - Nampah atau menyebelih hewan seperti babi, ayam, bebek, penyu dan lainnya merupakan bagian tradisi atau budaya masyarakat Bali, dimana kegiatan ini terutama terkait erat dengan Perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan atau Hari Kemenangan Dharma (kebajikan/kebaikan).


Dr.Ir. I Gusti Ngurah Nitya Santhiarsa, MT selaku Budayawan dan Dosen Universitas Udayana Denpasar menyatakan bahwa sehari sebelum hari raya Galungan dan Kuningan dinamakan hari Penampahan, teristimewa pada hari Penampahan Galungan, dimana-mana banyak hewan terutama babi dan ayam disembelih yang nantinya digunakan sebagai Yadnya atau kurban suci melengkapi sarana banten atau upakara menyambut hari Galungan. 


Gusti Ngurah Nitya menjelaskan jika penyertaan hewan kurban memang sering dilakukan dalam tradisi Hindu di Bali, disertai dengan harapan agar roh hewan yang dikorbankan mendapat anugrah dari Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Kasih seperti dapat reinkarnasi atau lahir kembali ke dunia menjadi mahluk yang lebih tinggi derajadnya.


Adapun makna dari Penampahan, kata pria yang 20 tahun jadi penulis artikel Hindu itu bisa ditinjau dari beberapa sudut pandang yaitu pertama dari segi ritual dimana adanya ritual atau upacara Natab Sesayut Penampahan atau disebut dengan Sesayut Pamyak Kala Laramelaradan dimana makna dari proses ritual ini adalah untuk mengingatkan umat agar membangun kekuatan Wiweka Jnana atau membangun kekuatan diri untuk mampu membeda-bedakan mana yang benar dan mana yang salah.


"Mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang patut dan mana yang tidak patut. Sehingga dengan demikian secara tegas dapat kita menghindar dari kesalahan-kesalahan yang dapat membawa kita pada kehidupan yang adharma atau yang tidak baik," ujar Gusti Ngurah Nityadi Denpasar, Minggu (4/9).


Mantan Wakil Ketua The Hindu Center atau pusat kajian Hindu periode 2004-2012 itu mengungkapkan bahwa penyembelihan babi dan ayam itu sesungguhnya sebagai simbol untuk menyembelih sifat-sifat serakah suka bertengkar (rajasika) seperti sifat buruk dari ayam dan sifat-sifat malas pengotor seperti babi (tamasika).


"Disamping itu, korban suci atau Yadnya merupakan salah satu kewajiban umat Hindu kepada Tuhan, karena manusia hidup berutang kehidupan kepada Beliau Sang Pencipta, maka sebagai tanda syukur kepada Beliau maka umat manusia wajib melakukan kurban suci termasuk menyembelih hewan pada hari tertentu," ungkapnya.


Gusti Ngurah Nitya melanjutkan makna kedua dari segi sosial bahwa kegiatan Nampah ternyata memiliki dimensi kepedulian terhadap sesama, maksudnya sisa persembahan atau kurban bisa kita nikmati sebagai Prasadam atau sisa persembahan atau surudan yang sudah diberkati orang suci dengan diberi mantram yang memberikan pengutan Kesradhaan kepada kita, ditambah lagi apa yang kita miliki, sebagian dibagikan kepada saudara dan kerabat bahkan kepada siapa saja yang membutuhkan makanan atau daging kurban. 


"Sikap atau tradisi berbagi atau dalam bahaya Bali disebut Ngedum merupakan sikap komunal yang terpuji dan patut dipelihara dari waktu ke wakty karena sangat berdampak positif bagi peningkatan kerukunan inter dan antar umat beragama," jelas budayawan penulis ratusan artikel tentang budaya Bali dan agama Hindu itu.


Makna ketiga dari Nampah, sambung Gusti Ngurah Nitya, juga dapat ditinjau dari segi kepentingan hewan kurban sendiri, selain diatas telah disebutkan sebagai upaya penyupatan menuju kepada kehidupan mendatang yang lebih mulia, hewan yang dikorbankan haruslah mendapat perlakuan yang baik, makan yang cukup, dijaga kesehatannya, mendapatkan kasih sayang serta perlakuan lain yang baik. Perlu diperhatikan, sebelum hewan kurban disembelih, ada beberapa hal yang mesti atau wajib dilakukan oleh umat Hindu. 


"Pertama, hewan korban harus diberi makan dan minum, kepada mereka diperdengarkan bacaan kitab suci Veda (Weda) atau nyanyian suci serta musik yang menenangkan, kemudian ketika penyembelihan, tukang tampah atau para eksekutor ( tukang jagal) harus mengucapkan mantram penyembelihan hewan serta lakukan proses penyembelihan dengan pisau yang sangat tajam dan proses yang sangat cepat agar hewan mati dalam keadaan yang tenang. Semua ini kita lakukan sebagai wujud rasa kasih sayang kepada semua mahluk hidup dan sebagai tanda bakti kepada Tuhan Yang Maha Kuasa," jelas salah satu tokoh Keluarga Puri Peguyangan Denpasar itu.


Terkait tradisi budaya Nampah pada hari Penampahan menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan, PT Praja Bali Transportasi (Blue Bird Group area Bali - Lombok) untuk kesekian kalinya melaksanakan tradisi Nampah yang dilakukan di area Kantor Pool Blue Bird Group Bali di Sesetan Denpasar, Senin (5/9) hari ini.


"Kita akan Nampah 5 ekor babi. Budaya Nampah ini sudah beberapa kali dilakukan, cuma sekarang jumlahnya babinya dinaikkan seiring perkembangan perusahaann," ucap General Manager Blue Bird Group Area Bali - Lombok, dr. I Putu Gede Panca Wiadnyana.


Adapun tujuan Nampah yang dilakukannya, lanjut dokter Panca, untuk memupuk kebersamaan antar pengemudi, managemen dan masyarakat sekitar. Disamping Nampah, dalam rangkaian hari raya Galungan dan Kuningan, Blue Bird Group area Bali juga akan membagikan buku cerita anak Hindu "Dunia Sekar" yang akan dibagikan gratis kepada anak-anak yang membutuhkan.


"Nampah kita lakukan mulai pukul 09.00 Wita di Kantor Blue Bird Sesetan Denpasar. Kita libatkan Ketua Group, Serikat Pekerja, managemen dan tokoh masyarakat di Lingkungan Pool. Untuk buku cerita anak hindu Dunia Sekar, sementara kita bagikan 200 buku untuk anak-anak di pedesaan terutama di daerah Bangli dan disekitar Pool. Nanti seiring waktu kita berencana bagikan kepada anak-anak di seluruh pelosok desa di Bali," pungkasnya. (5412/pb)






Beri Komentar



Masukkan 6 kode diatas)