LSM JARRAK Bali Dorong Spirit Hari Lahir Pancasila
Jadi Ideologi Bersama Memperkuat Kebhinnekaan
Redaksi - 01 Juni 2017 - 219 Pembaca

Reporter : Kadek Saputra

Denpasar, cahayabali.com - Sudah 72 tahun Pancasila hadir sebagai dasar dan haluan kenegaraan. Namun, dalam kurun waktu yang panjang tersebut ideologi negara itu kerap terpojok, bahkan dikhianati. Berulang kali para pembesar dan elite di Republik ini berseru bahwa Pancasila sebagai ideologi bersama. Karena itulah, LSM JARRAK Bali mendorong spririt Hari Lahirnya Pancasila bukan sekadar ornamen untuk mempercantik penampilan Burung Garuda, tapi juga jadi lambang negara yang menjadi spirit memperkuat kebhinnekaan.

"Pemerintah telah mendorong agar setiap kegiatan penting di negeri ini, Pancasila terus diucapkan sebagai solusi atas fakta keberagaman dan kemajemukan negeri ini. Tapi faktanya, pamor Pancasila semakin meredup di tengah arus besar demokratisasi yang dalam beberapa hal salah urus. Bahkan. Pendalaman falsafahnya tak lagi menjadi panutan," ungkap Ketua BPW LSM JARRAK (Jaringan Reformasi Rakyat) Provinsi Bali, I Made Rai Sukarya di Denpasar, Kamis (1/6).

Selain itu dikatakan, nilai-nilai luhur kebangsaan yang tertanam dalam tubuh Pancasila bahkan kerap dikhianati oleh perilaku masyarakat, termasuk para elitenya. Masih munculnya kepentingan kelompok, serta suburnya praktik-praktik korupsi merupakan contoh betapa Pancasila masih amat megah di ruang kata-kata, tapi sepi di tingkat pelaksanaannya. "Rasanya spirit kejujuran dan keadilan yang menjadi bagian penting falsafah Pancasila juga semakin pudar. Karena itu, penetapan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila sejatinya untuk mengembalikan ideologi negara sebagai nilai penting saat dilahirkan," imbuhnya.

Bahkan dikatakan, penetapan 1 Juni sebagai hari libur nasional menunjukkan pemerintah berupaya menarik seluruh elemen bangsa ini untuk mengingatkan kembali Pancasila sebagai ideologi bersama. Jika 10 November sebagai Hari Pahlawan, 17 Agustus sebagai Hari Kemerdekaan, bahkan 20 Mei Hari Kebangkitan Nasional diperingati dengan upacara dan pengibaran bendera Merah Putih, maka tidak berlebihan jika di Hari Lahir Pancasila hal serupa dilakukan. "Itu kendati baru simbolis, akan memberikan makna Pancasila dalam posisi yang tinggi," katanya.

Kendati simbolisasi Pancasila melalui penetapan dan peringatan hari kelahirannya tersebut dianggap sangat penting, seperti saat pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 yang menyebut Pancasila sebagai dasar filsafat dan pandangan hidup bangsa. "Begitu pula mestinya kita membumikan Pancasila dalam kehidupan kebangsaan kita. Kelemahan pembumian Pancasila selama ini disebabkan ketidakmampuan bangsa ini untuk mengaktualisasikan Pancasila, baik sebagai filsafat maupun pandangan hidup kebangsaan," tegasnya.

Karena itu, disebutkan dengan menjadikan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila, mestinya keputusan itu diikuti pula dengan spirit menjauhkan ideologi bangsa dari hal-hal yang memecah belah bersatuan bangsa. Peringatan Hari Lahir Pancasila harus menjadi momentum demi memperkuat komitmen bangsa Indonesia untuk sungguh-sungguh mengimplementasikan Pancasila sebagai falsafah dan pendirian hidup bangsa. "Hanya dengan cara itulah Pancasila akan kaya makna, juga kaya guna. Sebagaimana dulu para bapak bangsa bercita-cita saat menggali ideologi bangsa ini," tandasnya.

Editor : Nanta


Beri Komentar



Masukkan 6 kode diatas)